IHSG Sumringah & Dekati 7.300-an

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ditutup di area hijau pada perdagangan Rabu (10/7/2024), di tengah optimisme pasar bahwa era suku bunga tinggi dapat berakhir setidaknya pada akhir tahun ini.

IHSG ditutup menguat 0,24% ke posisi 7.287,04. IHSG sempat meraba tingkatan psikis 7.300. Tapi setelah itu, IHSG kembali ke kisaran 7.280-7.290.

Nilai transaksi indeks mencapai sekitar slot demo hacksaw Rp 8,7 triliun dengan melibatkan 22miliar lembar saham yang diperdagangkan sebanyak 1,1 juta kali. Sebanyak 262 saham naik, 268 saham turun, dan 259 saham stagnan.

Saham petrokimia milik konglomerat Prajogo Pangestu merupakan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) menjadi penyangga terbesar IHSG di akhir perdagangan hari ini, merupakan mencapai 10,8 indeks nilai.

IHSG kembali menguat di tengah ada info positif bahwa ketua bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed), merupakan Jerome Powell cemas dengan era suku bunga higher for longer.

Powell menyuarakan kekhawatiran bahwa menahan tingkat suku bunga terlalu tinggi terlalu lama dapat berbahaya pertumbuhan ekonomi. Powell menyebut ada sedikit penurunan inflasi secara tetap yang sejalan dengan sasaran The Fed merupakan ke kisaran 2%.

\\\”Sesudah kemajuan menuju sasaran inflasi 2% pada awal tahun ini berjalan lambat, pembacaan data inflasi terupdate menonjolkan adanya kemajuan lebih lanjut yang moderat. Data yang lebih baik akan memperkuat keyakinan kami bahwa inflasi bergerak secara berkelanjutan menuju 2%,\\\” tutur Powell, dikutip dariReuters.

Inflasi AS melandai ke 3,3% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Juni 2024, dari 3,4% (yoy) pada Mei 2024. Inflasi inti pengeluaran pribadi AS (PCE) melandai ke 2,6% (yoy) pada Juni 2024, dari 2,8% pada Mei.

Sebagai catatan, suku bunga The Fed ketika ini berada di kisaran 5,25%-5,50%, tingkatan tertinggi dalam 23 tahun terakhir. The Fed telah mengerek suku bunga selama 11 pertemuan dari Maret 2022 hingga Juli 2023. Suku bunga 5,25-5,50% telah bertahan selama setahun atau hingga ketika ini.

Kendati inflasi telah melandai, Powell mengingatkan sekiranya inflasi bukanlah satu-satunya risiko yang sekarang dihadapi AS. Ia mengisyaratkan ada risiko yang dihadapi ekonomi AS sekiranya suku bunga tinggi dibendung terlalu lama.

\\\”Mengingat kemajuan yang telah dicapai baik dalam menurunkan inflasi ataupun dalam mendinginkan pasar tenaga kerja selama dua tahun terakhir, inflasi yang tinggi bukanlah satu-satunya risiko yang kita hadapi. Terlalu lambat atau terlalu sedikit mengurangi kebijakan yang restraint (mengekang) dapat melemahkan kesibukan ekonomi dan ketenagakerjaan secara tidak sepatutnya,\\\” imbuhnya.

Menyusul pernyataan Powell, pasar berekspektasi dengan probabilitas 71% sekiranya The Fed akan mulai memangkas suku bunga pada September dan kemungkinan akan ditiru dengan pemangkasan tambahan seperempat persen memasuki akhir tahun.

Bagi Indonesia, pernyataan Powell yang lebih lunak ini diharapkan dapat menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan, termasuk rupiah, IHSG dan obligasi pemerintah.

Seandainya The Fed memangkas suku bunga maka ketidakpastian akan mengecil di pasar keuangan global. Dana asing juga diharapkan berbondong-bondong ke pasar keuangan dalam negeri sehingga rupiah, IHSG, dan harga obligasi menguat.