Apakah Boleh Buah Masih Dalam Kandungan Diregistrasikan Haji, Bagaimana Hukumannya

Haji yakni ibadah yang yakni rukun Islam yang kelima. Melakukan ibadah haji, hukumnya mesti bagi yang sanggup. Firman Allah

“Di sana terdapat pedoman-pedoman yang jelas, (di antaranya) maqam Ibrahim. Barangsiapa memasukinya (Baitullah) amanlah dia. Dan (di antara) kewajiban manusia kepada Allah yakni mengerjakan ibadah haji ke Baitullah, yakni bagi orang-orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke sana. Barangsiapa mengingkari (kewajiban) haji, maka ketahuilah bahwa Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam.” (QS. Ali Imran ayat 97)

Akan namun dalam mengerjakan slot77 ibadah haji, seiring antusiasme umat Islam dalam mengerjakan rukun Islam yang kelima ini kita terkendala antrean yang cukup panjang.

Dengan demikian maka timbul pertanyaan bolehkan mendaftar haji seseorang sejak dalam kandungan dengan tujuannya agar nantinya tidak terlalu panjang antrean untuk berangkat ke tanah suci?

Regulasinya
Menukil hidayatuna.com, menanggapi hal itu, pendakwah muda Ustad Ahmad Fauzan Amin menjelaskan secara kajian fikih masih belum ada jawabannya.

“Jika ini dicek di fikih belum ketemu jawabannya,” kata Ustad Fauzan Amin dalam acara Podcast Setengah Kamar, dikutip Jum’at (31/5/2024).

Dirinya tidak menampik, bahwa persoalannya di Indonesia untuk antrean haji sangatlah panjang, kemudian orang tua berinisiatif mendaftarkan si kecilnya.

“Sedangkan aktenya belum dibikin, namun namanya sudah disiapkan. Nah dalam kasus demikian, maka boleh gak?” tanya ulang Ustad Fauzan.

Tidak Awam Berdasarkan Tertib Pemerintah

Di menjawab, “Jika mengamati fikihnya dari sisi pandangan regulasi agama sebenarnya tidak ada permasalahan. Jika alasannya mengantisipasi antrean yang sungguh-sungguh panjang,” jelasnya.

Namun apabila seumpama mengamati prosedur yang dikendalikan pemerintah, maka menurut Ustad Fauzan hal itu tidak biasa.

“Yang ada itu selama ini, (nunggu) lahir dahulu, (kemudian) ada namanya, kemudian diregistrasikan tidak permasalahan,” ungkapnya.

Mengapa bisa demikian? Karena apabila seumpama nanti seseorang tersebut tidak jadi (batal) haji, sementara dia sudah daftar nantinya bisa digantikan oleh keluarganya.

“Entah itu karena karena meninggal dunia, atau karena ada alasan syariah lainnya, maka bisa digantikan keluarganya,” tandasnya.

Penulis: Khazim Mahrur / Madrasah Diniyah Miftahul Huda 1 Cingebul